Ternate, Giandra News – 14 Juni 2026 – Musyawarah Badan (Musbad) III Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Ternate resmi dibuka di Sekretariat KAHMI. Kegiatan yang berlangsung di bawah kepemimpinan Ketua Umum BPL HMI Cabang Ternate Periode 2025–2026, Suryanto Rauf, berjalan dengan khidmat meskipun dilaksanakan secara sederhana.

Dalam sambutannya, Suryanto Rauf berharap siapa pun yang nantinya terpilih memimpin BPL dapat melanjutkan dan merealisasikan cita-cita organisasi yang belum sempat diwujudkan selama masa kepengurusannya.

Menurutnya, BPL merupakan lembaga yang bekerja melalui “jalan sunyi”. Para instruktur yang dibentuk tidak hanya bertugas sebagai pengelola atau pelaksana latihan, melainkan juga harus menjadi penggerak pemikiran yang mampu meningkatkan kualitas kader HMI.

“Seorang instruktur wajib menjadi kutu buku, namun di sisi lain ia juga harus menjadi arsitek pemikiran. Hal ini sejalan dengan tugas utama BPL, yakni meningkatkan kualitas kader,” ujar Surya.

Ia menegaskan bahwa BPL harus menjadi ruang bagi lahirnya pemikir-pemikir kritis. Kader HMI tidak boleh mudah menerima informasi tanpa proses analisis dan verifikasi. Sebaliknya, kader harus memiliki cara pandang yang berbeda dalam memotret dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pada Musbad III kali ini, BPL HMI Cabang Ternate mengusung tema “Dari Yakin ke Aksi: BPL Membangun Pemikiran Kritis di Era Disrupsi AI.”

Menurut Surya, tema tersebut diangkat sebagai respons atas fenomena yang terjadi di kalangan kader maupun generasi muda saat ini, yang mulai kehilangan proses pengkaderan intelektual sebagai “kawah candradimuka” pembentukan karakter dan pemikiran.

Ia menjelaskan bahwa makna “Dari Yakin ke Aksi” adalah keyakinan ideologis yang dimiliki kader HMI, sebagaimana tertuang dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP), tidak boleh berhenti pada tataran wacana semata. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan pengabdian kepada masyarakat.

Surya juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif digunakan oleh generasi muda. Menurutnya, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara bijak dan tidak boleh mengurangi daya kritis maupun kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa disertai pemahaman yang memadai dapat menyebabkan menurunnya kemampuan analisis dan refleksi kritis. Karena itu, organisasi kader seperti HMI memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi menjadi alat bantu pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir.

Untuk menjelaskan tantangan tersebut, Surya mengutip pemikiran budayawan Kuntowijoyo yang membedakan manusia ke dalam dua tipe. Pertama, manusia alam, yaitu manusia yang bertumpu pada kekuatan dan pengaruh sehingga yang kuat cenderung menindas yang lemah. Kedua, manusia sebagai manusia, yaitu manusia yang membangun kehidupannya berdasarkan nilai, moral, dan kemanusiaan.

Menurutnya, tantangan saat ini adalah menjaga agar nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi dalam kehidupan sosial. Dalam konteks tersebut, HMI sebagai organisasi perkaderan memiliki peran strategis dalam mentransformasikan nilai-nilai individual menjadi nilai sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menutup sambutannya, Surya menegaskan bahwa HMI Cabang Ternate saat ini sedang fokus mengawal berbagai isu strategis, khususnya persoalan pertambangan dan kerusakan ekologi di Maluku Utara. Oleh karena itu, ia berharap BPL terus berperan dalam melahirkan kader-kader yang kritis secara intelektual, kuat secara ideologis, serta tetap memiliki militansi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan lingkungan hidup.

Musbad III BPL HMI Cabang Ternate diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus ruang evaluasi untuk memperkuat peran BPL dalam membangun tradisi intelektual dan kaderisasi yang berkualitas di tubuh HMI.(Red)

Giandra News
Editor
Giandra News
Reporter