Di sebuah sudut kampus di Ternate, seorang mahasiswa duduk sambil membuka laptopnya. Di telinganya terdengar musik modern dari Spotify, tetapi di tangannya masih melingkar gelang adat pemberian ibunya dari kampung. Di layar telepon genggamnya, ia berdiskusi tentang kecerdasan buatan, sementara malam nanti ia akan pulang mengikuti doa keluarga dan tradisi makan bersama. Inilah wajah baru mahasiswa Maluku Utara: hidup di antara tradisi dan teknologi.

Perubahan zaman telah membawa mahasiswa Maluku Utara memasuki ruang sosial yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Jika dahulu mahasiswa hanya dikenal sebagai kelompok intelektual yang belajar melalui buku dan ruang kelas, kini mereka hidup di tengah arus digital yang sangat cepat. Dunia media sosial, perkembangan teknologi, dan budaya global perlahan membentuk cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara memandang identitas diri.

Namun menariknya, modernisasi di Maluku Utara tidak sepenuhnya menghapus akar budaya lokal. Di tengah maraknya TikTok, Instagram, dan perkembangan kecerdasan buatan, masih banyak mahasiswa yang bangga menggunakan bahasa daerahnya, aktif dalam kegiatan adat, serta tetap percaya bahwa nilai kekeluargaan adalah pondasi kehidupan sosial. Modernisasi akhirnya tidak hanya menciptakan perubahan, tetapi juga melahirkan pertemuan antara dunia lama dan dunia baru.

Dalam kajian sosiologi, kondisi ini dapat dipahami melalui konsep sistem sosial dan sistem budaya. Sistem sosial merupakan pola hubungan antarindividu dalam masyarakat yang membentuk aturan, peran, dan struktur kehidupan bersama. Sementara itu, sistem budaya adalah kumpulan nilai, keyakinan, simbol, adat, dan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keduanya saling berkaitan dan membentuk identitas masyarakat.

Tokoh sosiologi Max Weber menjelaskan bahwa perubahan sosial sering dipengaruhi oleh proses rasionalisasi, yaitu ketika manusia mulai berpikir secara lebih logis, efisien, dan modern. Dalam bukunya, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber menjelaskan bagaimana cara berpikir modern mampu mengubah perilaku masyarakat secara besar-besaran. Menurut Weber, masyarakat modern perlahan bergerak dari pola tradisional menuju pola yang lebih rasional dan terorganisir.

Pemikiran Weber sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa Maluku Utara hari ini. Banyak mahasiswa kini lebih terbiasa mencari informasi melalui Google dibanding perpustakaan. Diskusi akademik berpindah ke grup WhatsApp dan Telegram. Bahkan hubungan sosial lebih sering dibangun melalui media digital dibanding tatap muka langsung. Rasionalisasi teknologi akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun Weber juga mengingatkan bahwa modernitas dapat melahirkan apa yang disebut sebagai “sangkar besi rasionalitas”. Artinya, manusia dapat terjebak dalam dunia yang terlalu mekanis dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Mahasiswa yang terlalu sibuk mengejar popularitas digital terkadang lupa terhadap akar budaya, solidaritas sosial, dan nilai kebersamaan yang selama ini hidup dalam masyarakat Maluku Utara.

Di sinilah pemikiran Arief Budiman menjadi penting. Dalam bukunya, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Arief Budiman menjelaskan bahwa modernisasi tidak selalu membawa kebebasan bagi masyarakat. Pembangunan dan teknologi sering kali menciptakan ketergantungan baru serta menggeser nilai-nilai lokal yang sebelumnya menjadi identitas masyarakat.

Menurut Arief Budiman, masyarakat berkembang sering mengalami dilema antara mempertahankan budaya lokal atau mengikuti arus globalisasi. Ketika teknologi masuk tanpa kontrol budaya yang kuat, masyarakat perlahan kehilangan orientasi sosialnya. Apa yang dianggap modern sering kali dipahami hanya sebatas gaya hidup, bukan perkembangan kesadaran intelektual.

Fenomena ini terlihat jelas di kalangan mahasiswa Maluku Utara. Banyak mahasiswa lebih mengenal tren luar negeri dibanding sejarah daerahnya sendiri. Ada yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dunia, tetapi tidak memahami makna budaya seperti babari, dala, maupun nilai gotong royong dalam masyarakat kepulauan. Modernitas akhirnya menghadirkan kemajuan sekaligus krisis identitas.

Padahal, budaya Maluku Utara memiliki kekayaan sosial yang luar biasa. Nilai kekeluargaan, penghormatan terhadap orang tua, solidaritas kampung, dan tradisi musyawarah merupakan warisan budaya yang telah menjaga masyarakat selama ratusan tahun. Budaya ini lahir dari kehidupan kepulauan yang mengajarkan manusia untuk saling membantu demi bertahan hidup.

Mahasiswa sebagai kelompok intelektual seharusnya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga penjaga nilai budaya. Teknologi semestinya digunakan untuk memperkuat identitas lokal, bukan menghapusnya. Media sosial, misalnya, dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan bahasa daerah, sejarah Kesultanan Ternate dan Tidore, hingga tradisi masyarakat pesisir Maluku Utara kepada dunia luar.

Di sisi lain, teknologi memang membuka peluang besar bagi mahasiswa. Hari ini mahasiswa dari desa-desa kecil di Halmahera dapat mengikuti seminar internasional hanya melalui telepon genggam. Mereka dapat belajar filsafat, politik, ekonomi, bahkan kecerdasan buatan tanpa harus keluar daerah. Teknologi membuat batas geografis perlahan runtuh.

Namun, kemajuan teknologi tanpa kesadaran budaya dapat melahirkan generasi yang kehilangan arah. Mereka mungkin cerdas secara digital, tetapi kosong secara sosial. Mereka aktif di media sosial, tetapi asing terhadap masyarakatnya sendiri. Mereka mengenal dunia luar, tetapi tidak mengenal tanah kelahirannya.

Karena itu, mahasiswa Maluku Utara membutuhkan keseimbangan antara tradisi dan teknologi. Tradisi memberi identitas, sedangkan teknologi memberi peluang masa depan. Jika keduanya dipadukan dengan baik, maka mahasiswa Maluku Utara tidak hanya akan menjadi generasi modern, tetapi juga generasi yang berakar kuat pada budayanya sendiri.

Kampus juga memiliki tanggung jawab besar dalam proses ini. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga kesadaran sosial dan budaya. Mahasiswa perlu diajak memahami sejarah daerah, realitas masyarakat pesisir, persoalan ekologi, hingga perubahan budaya akibat globalisasi digital.

Di tengah derasnya arus modernisasi, mahasiswa Maluku Utara sebenarnya sedang berdiri di persimpangan sejarah. Mereka dapat memilih menjadi generasi yang hanyut dalam budaya instan, atau menjadi generasi yang mampu memadukan kecerdasan teknologi dengan kebijaksanaan tradisi.

Sebab masa depan daerah ini tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat internet berkembang, tetapi juga oleh seberapa kuat manusia mempertahankan nilai kemanusiaannya. Teknologi dapat menciptakan kemajuan, tetapi budaya menjaga manusia agar tidak kehilangan dirinya sendiri.

Mungkin suatu hari nanti dunia akan mengenal mahasiswa Maluku Utara bukan hanya karena kemampuan digitalnya, tetapi juga karena keberhasilannya menjaga akar budaya di tengah ledakan modernitas. Mereka akan menjadi generasi yang mampu berdiri di dua dunia sekaligus: berpikir modern tanpa kehilangan jiwa tradisi.

Pada akhirnya, kemajuan terbesar bukanlah ketika manusia berhasil menciptakan teknologi paling canggih, melainkan ketika ia tetap mampu menjaga hati, budaya, dan kemanusiaannya di tengah dunia yang terus berubah.

Tugas UTS Pengantar Sosiologi

 

Ditulis oleh:

Puspita Tolangara

Alya Wulandari

Giandra News
Editor