Oleh: Muhammad Mujizad Mandea

Berbicara tentang perempuan dalam panggung sejarah Indonesia berarti membicarakan narasi panjang tentang perlawanan. Dalam tulisan saya terdahulu, “Perempuan dan Gerakan Perlawanan”, tergambar jelas bagaimana para martir perempuan berdiri tegak memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan. Kita mengenang R.A. Kartini yang melalui keberanian berpikirnya mampu meretakkan tembok patriarki yang begitu kokoh. Namun, ketika ruang perjuangan kini bergeser dari dunia fisik menuju ruang digital, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana kondisi perempuan di era digital saat ini?

Apakah semangat perempuan modern masih mengalir sebagaimana keberanian Cut Nyak Dien yang memimpin perlawanan di medan perang? Apakah keteguhan Martha Christina Tiahahu atau kewibawaan Sultanah Puteri Nukila dalam menghadapi dominasi asing masih hidup dalam diri perempuan hari ini? Ataukah, di balik gemerlap era digital, esensi emansipasi justru mengalami kemunduran dan menjerumuskan perempuan ke dalam bentuk kolonialisme baru?

Secara struktural, era digital sejatinya membuka ruang yang sangat luas bagi perempuan. Demokratisasi informasi telah membongkar banyak batas yang dahulu menempatkan perempuan hanya di ruang domestik. Hari ini perempuan hadir sebagai aktor penting dalam pendidikan, politik, ekonomi, hingga kebudayaan. Indonesia bahkan telah membuktikan kapasitas kepemimpinan perempuan melalui sosok Megawati Soekarnoputri sebagai presiden kelima Republik Indonesia, hingga ketegasan Susi Pudjiastuti dalam dunia pemerintahan. Fakta ini menunjukkan bahwa ruang publik bukan lagi wilayah eksklusif laki-laki. Kesetaraan gender bukan sekadar wacana, tetapi realitas yang terus bertumbuh.

Namun, ironi muncul di balik layar gawai. Ketika peluang terbuka semakin luas, sebagian perempuan justru terjebak dalam “penjara baru” yang dibentuk oleh algoritma media sosial. Platform digital yang seharusnya menjadi alat penguatan intelektual dan gerakan sosial, kerap mereduksi perempuan menjadi sekadar komoditas visual. Orientasi perjuangan perlahan bergeser: dari upaya memperjuangkan pendidikan dan eksistensi sosial menuju obsesi pada penampilan superfisial, validasi instan, dan pencarian popularitas demi mengejar algoritma FYP (For Your Page).

Pada titik inilah persoalan menjadi serius. Media sosial tidak lagi digunakan sebagai ruang pemberdayaan, melainkan berubah menjadi arena eksploitasi diri. Dalam banyak kasus, perempuan secara tidak sadar menyerahkan agensi dan martabatnya demi konsumsi publik dan perhatian sesaat.

Kondisi tersebut diperparah oleh budaya patriarki yang hingga kini belum sepenuhnya hilang. Di berbagai daerah, stigma lama bahwa “setinggi apa pun pendidikan perempuan akhirnya kembali ke dapur” masih terus diproduksi dan diwariskan. Akibatnya, lahirlah perpaduan yang berbahaya antara budaya patriarki dan eksploitasi digital. Perempuan yang tidak dibekali literasi kritis akhirnya mudah terjebak dalam arus tersebut, kehilangan orientasi, dan lebih mengejar atensi ketimbang pengembangan kapasitas diri.

Karena itu, perempuan masa kini perlu melakukan refleksi historis. Warisan intelektual dan keberanian para tokoh perempuan terdahulu harus dihidupkan kembali dalam konteks perjuangan digital hari ini. Jika dahulu perempuan melawan penjajahan fisik, maka kini perjuangan diarahkan untuk melawan alienasi diri, objektifikasi tubuh, dan pembodohan massal di ruang maya. Tokoh-tokoh perempuan masa lalu telah membuktikan bahwa keterbatasan ruang tidak pernah mampu membatasi kemerdekaan berpikir.

Menjadi perempuan yang berdaya di era digital memang bukan perkara mudah. Tantangannya tidak hanya datang dari stigma sosial yang masih hidup di tengah masyarakat, tetapi juga dari jebakan candu digital yang perlahan menggerus kesadaran kritis. Oleh sebab itu, perempuan yang memiliki akses pendidikan harus mampu menjadi kompas bagi sesamanya. Digitalisasi harus dipandang sebagai alat pembebasan dan penguatan kapasitas, bukan sebagai bentuk perbudakan baru yang membungkam nilai dan martabat perempuan.

Pada akhirnya, kekuatan utama dalam perjuangan perempuan di era digital terletak pada solidaritas kolektif atau sisterhood. Perempuan harus saling merangkul, saling mendidik, dan saling menguatkan agar tidak terjerumus dalam degradasi moral media sosial. Sebab, kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu tidak boleh runtuh di tangan generasi hari ini.

Giandra News
Editor
Giandra News
Reporter