Oleh: Thirsa A. Rauf (Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara)

Saat mampir ke Pasar Tradisional Gamalama, Ternate, beberapa waktu lalu, saya melihat sesuatu yang menarik. Pak Jusuf, yang selama puluhan tahun berjualan sate ayam di gerobak kecilnya, kini tampak sibuk menunjukkan cara memesan dagangannya melalui akun Instagram kepada pelanggan muda.

“Dulu cuma tunggu orang datang sendiri, sekarang malah ada yang pesan dari luar kota,” katanya sambil tersenyum.

Cerita Pak Jusuf bukan sekadar kisah sukses usaha kecil. Di balik itu, tersimpan gambaran tentang bagaimana masyarakat modern terus berubah. Di sinilah sosiologi menjadi penting untuk dipahami, bahkan bagi saya yang menempuh pendidikan di jurusan Psikologi.

Mengapa Sosiologi Penting di Era Modern?

Bagi sebagian orang, sosiologi mungkin terdengar rumit karena identik dengan pembahasan struktur sosial. Padahal, ilmu ini membantu kita memahami hubungan antara perubahan sosial, teknologi, budaya, dan kehidupan sehari-hari.

Sosiologi mengajarkan bahwa perkembangan teknologi bukan hanya soal gawai atau aplikasi digital, tetapi juga mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, hingga memasarkan makanan tradisional.

Pak Jusuf, misalnya, tidak hanya belajar menggunakan telepon pintar, tetapi juga menyesuaikan diri dengan pola komunikasi pelanggan generasi baru.

Selain itu, sosiologi membantu kita memahami mengapa perubahan sosial terjadi dan apa dampaknya terhadap masyarakat. Di Ternate, banyak pelaku UMKM kuliner yang awalnya ragu menggunakan teknologi digital, namun akhirnya ikut beradaptasi setelah melihat keberhasilan usaha lain yang memanfaatkan media sosial dan layanan pesan antar daring.

Perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman.

Kuliner Ternate dan Dunia Digital

Ternate memiliki kekayaan kuliner yang khas, mulai dari papeda kuah kuning hingga bakso Ternate yang memiliki cita rasa berbeda dengan daerah lain. Kini, banyak pelaku usaha kecil mulai menggabungkan tradisi dengan teknologi modern.

Pak Jusuf bukan satu-satunya. Bu Siti, penjual papeda di sekitar Pasar Gamalama, kini menerima pesanan melalui layanan daring dan aktif membagikan proses memasak ikan kuah kuning melalui TikTok.

>“Awalnya saya bingung pakai kamera HP, tapi anak-anak yang ajarin,” ujarnya.

Dalam waktu kurang dari setahun, penjualannya meningkat cukup signifikan karena dikenal lebih luas melalui media sosial.

Dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan sosial yang nyata. Pelaku usaha yang sebelumnya hanya fokus memasak dan berjualan secara langsung kini harus belajar mengelola akun digital, memahami pasar daring, hingga beradaptasi dengan kebutuhan konsumen modern.

Namun menariknya, modernisasi tersebut tidak selalu menghapus budaya lokal. Banyak pelaku UMKM tetap mempertahankan resep tradisional dan nilai budaya dalam setiap produk yang mereka jual.

Tantangan di Tengah Perubahan

Meski membawa peluang baru, transformasi digital juga menghadirkan tantangan.

Pak Amir, penjual es cendol di sekitar terminal angkot, mengaku sering kesulitan memahami sistem pembayaran digital dan pengelolaan pesanan daring.

“Saya mau ikut perkembangan, tapi kadang teknologi bikin pusing,” katanya sambil tertawa kecil.

Selain itu, masih ada persoalan akses internet yang belum merata di beberapa wilayah pinggiran Ternate. Hal ini membuat sebagian pelaku usaha kesulitan mengembangkan bisnis digital secara maksimal.

Ada pula kekhawatiran bahwa modernisasi berlebihan dapat mengurangi nilai budaya dalam kuliner lokal, terutama jika makanan tradisional terlalu banyak dimodifikasi demi kebutuhan pasar.

Belajar dari Perubahan Sosial

Fenomena UMKM kuliner Ternate yang mulai merambah dunia digital memperlihatkan bagaimana masyarakat terus bergerak mengikuti perubahan zaman.

Sosiologi membantu kita memahami bahwa setiap perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya berkaitan erat dengan dinamika sosial yang lebih besar.

Sebagai mahasiswa Psikologi, saya melihat bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia. Perubahan yang dialami Pak Jusuf dan pelaku UMKM lainnya bukan hanya perubahan individu, melainkan bentuk adaptasi sosial dalam menghadapi perkembangan modern.

Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu takut terhadap perubahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga nilai budaya dan identitas lokal di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

Kuliner lokal bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas, budaya, dan kehidupan masyarakat itu sendiri.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya mahasiswa yang diterbitkan dalam rubrik “Muda Berbicara” sebagai bentuk dukungan terhadap gagasan dan analisis generasi muda mengenai fenomena sosial di daerah.

Giandra News
Editor