“Pilkades Tepeleo wajib kembali dan dikembalikan ke politik berdimensi fitrah dan falsafah kemakmuran”.

Oleh; ( IdilFitri Yusup Pegiat Literasi )

Kata “Idul Fitri” secara bahasa mengandung makna kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian yang asali atau kembali kepada esensi manusia sesungguhnya. Mengutip Muthahari, bahwa fitrah merupakan fakultas alami manusia yang diberikan oleh Tuhan. Bahwa setiap manusia memiliki fitrah, fitrah sejak dari lahir. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW “sesungguhnya manusia itu lahir dalam keadaan fitrah (suci)”. Fitrah menuntun manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang yang salah, serta mana kejujuran dan mana penyelewengan, fitrah adalah intrumen manusia menuju pada kesempurnaan. Ini adalah dimensi yang pertama dari idul fitri, yaitu dimensi kesucian dan dimensi kesalehan.

Fitrah menurut Murthada Muthahari, merujuk pada hakikat penciptaan manusia yang unik dan asli dari Allah SWT, sebagai disposisi bawaan untuk mengenal serta menerima kebenaran ilahiyah. Fitrah mencakup keadaan khusus yang menyiapkan manusia untuk mengenal dan mengetahui agama sebagai syariat, tarekat, dan hakikat yang transenden.

Disisi lain Idul Fitri juga berarti hari raya Eid al-Fatir, yang berarti adalah perayaan Islam yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan, melambangkan kembalinya kesucian jiwa setelah menahan hawa nafsu. Secara harfiah Eid al- Fatir adalah “hari raya suci” atau hari berbuka puasa” yang mencerminkan pembersihan dosa setelah Ramadhan. Idul Fitri adalah kesenangan spiritual, mendorong silahturahmi, memaafkan, dan berbagi zakat fitrah.

Zakat fitrah oleh ummat islam diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrahnya, yaitu berupa bahan makanan pokok seperti beras dan gandum yang harus diberikan kepada fakir miskin agar mereka juga dapat bergembira menikmati makan dan minum dengan penuh kesempurnaan serta kemakmuran. Ini bukan sekedar pesta, melainkan hari di mana ketaatan bertambah dan dosa diampuni oleh Allah SWT setelah ibadah sempurna.

Jika dimensi pertama, tentang kesucian dan kesalehan yang bersifat individual, privat, dan ritual maka dimensi kedua adalah kemakmuran yang bersifat publik dan sosial. Kesalehan spritual tidak akan sempurna apabila tidak diikuti dengan kesalehan sosial. Menurut Muthahari, sempurnalah tanggungjawab spritual apabila sempurna jugalah tanggungjawab sosial. Oleh karena itu, kewajiban yang berdimensi sosial seperti mengeluarkan zakat fitrah dan memberikan kepada anak yatim piatu, serta fakirmiskin lainya adalah dimensi kesalehan sosial setelah dimensi kesalehan spritual seperti sholat, puasa, dan lainnya guna mewujudkan falsafah kemakmuran.

Kesucian Pilkades

Sebaga aktivis seperti sekarang ini, saya yang datang dari keluarga mustadhafin, keluarga lapisan paling bawah disuatu pelosok desa terpencil yaitu Desa Tepeleo Batu Dua yang menjalani kehidupan yang sangat berat, saya selalu terobsesi akan kemakmuran rakyat dan kesejahteraan publik. Sejak usia dini hingga besar dan bahkan menempuh pendidikan tinggi dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan susah bahkan tidak mampu telah terbiasa mendengarkan keluhan, ketidakpuasan, protes, dan kemarahan atas kondisi belum terwujudnya kemakmuran rakyat.

Dan hari ini saya masih saja menyaksikan bahkan mendengar langsung suara banyak orang yang mempertanyakan arah kemakmuran politik untuk kemakmuran rakyat. Bahkan ada tempat dimana dipimpin oleh orang yang tidak mampu membaca dan menulis, kalo seperti ini bagaimana halnya untuk mewujudkan kemakmuran bagi rakyat sedangkan nasib dan kepentingan rakyat diserahkan langsung oleh mereka yang memimpin.

Kondisi ini tentu menimbulkan kerisauan relung hati saya bahwa mengapa semua ini bisa terjadi dalam kehidupan perpolitikan kita. Kehidupan politik yang tidak saling pandang, dan kehidupan politik yang penuh dengan fanatisme. Mengapa semua ini harus terjadi.

Sebagai seorang aktivis pula saya mengajak kepada para cakades-cakades Tepeleo untuk tetap mengembalikan kesucian pilkades Tepeleo sebagai entitas budaya dan suku bangsa bahwa eksistensi politik pemilihan kepala desa harus kembali kepada nilai-nilai agama, pancasila, dan demokrasi yang berfalsafah kemakmuran rakyat.

Sebagai bukti, lihat saja kehidupan poltik sekarang ini, telah berkembang menjadi sangat liberal seolah-olah tercerabut dari falsafah budaya bangsa dengan ciri kebebasan yang nyaris tanpa batas dan melupakan kemakmuran rakyat. Rasanya kehidupan politik hari ini jauh dari apa yang dicita-citakan oleh fonthing father kita.

Dengan demikian semoga pemilihan kepala desa hari ini khususnya di Desa Tepeleo Induk, Tepeleo Batu Dua, Tepeleo Pantura, dan Tepeleo Palo mejadi gerbang menuju kebajikan. Bahwa esensinya politik adalah panggilan kebajikan, politik adalah panggilan ilahiyah yang suci, demi mewujudkan kesalehan ritual individual menjadi kesalehan sosial. Itulah kesucian pilkades

Falsafah Kemakmuran

Idul Fitri yang dirayakan pada hari ini mengandung hikmah untuk menuntun kita ke depan bahwa kesalehan, kesucian, dan kemakmuran Idul Fitri tidak boleh berhenti dalam keimanan, melainkan mejadi iman dalam perbuatan. Perbuatan dalam beribada, berpolitik, bekerja, bahkan perbuatan memilih pemimpin demi mewujudkan kesalehan, perdamaian, dan kemakmuran rakyat sebagaimana diajarkan dalam ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri. Dengan kata lain terjadi

proses transformasi diri dari kesalehan individual ke kesalehan sosial atau dari teologi kemakmuran yang esoterik ke pilkades yang eksoterik.

Politik harus diarahkan untuk memajukan kemakmuran rakyat sebagaimana diajarkan dalam Idul Fitri. Politik harus berdimensi kesalehan dan kemakmuran. Politik harus menjadi maritim terwujudnya kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Politik adalah panggilan untuk mewujudkan kebajikan tertinggi, dan politik adalah kerja-kerja kebajikan.

Dititik ini politik yang telah lama mengembara terlalu jauh sudah semestinya dikembalikan kepada fitrah bahwa sejatinya poltik itu suci. Bahwa politik esensinya adalah mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Dalam konteks seperti ini semoga cakades-cakades Tepeleo inya Allah telah menerima mandat poltik mampu menyatukan kesalehan ritual individual menuju kesalehan sosial dengan mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Itulah politik falsafah kemakmuran

Giandra News
Editor
Giandra News
Reporter