Oleh; Sarajuddin Muksin ( Kader HPMPD Ternate)
Sebuah kebiasaan warga berjalan di pagi hari. Sebagaimana lazimnya, ketika bertemu pada waktu pagi, mereka saling mengucap salam dan sapa sambil menikmati udara yang masih segar dan sehat. Ibu-ibu menyambut pagi dengan penuh semangat, menyiapkan sarapan serta bekal untuk dibawa ke kebun.
Patani Timur adalah sebuah wilayah yang terletak di bagian timur Pulau Halmahera, Kabupaten Halmahera Tengah. Setelah kembali ke kampung halaman, saya melihat dengan jelas bahwa kehidupan masyarakat sangat bergantung pada hasil komoditas lokal seperti pala dan kelapa. Saya meyakini bahwa masa depan sebuah wilayah terletak pada kemampuan dan kemandirian tiap daerah dalam mengelola sumber daya alamnya, khususnya keragaman hayati secara berkelanjutan.
Saya lahir dan besar di Desa Damuli, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Jika ditilik dari peta, lokasinya berada agak ke timur Pulau Halmahera. Air mengalir sepanjang hari dari keran-keran rumah warga. Tak terhitung berapa kali air tersebut langsung dikonsumsi tanpa dimasak. Saya tahu, menjaga air mentah agar tetap layak diminum dari desa, kampung, hingga kota adalah bentuk menjaga kehidupan. Air adalah kehidupan; jika kita mampu menjaganya, berarti kita masih memiliki harapan untuk masa depan.
Saya juga tumbuh dengan mengonsumsi aneka pangan yang tersedia di desa: umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat, serta sayur-sayuran kaya vitamin yang kerap dibagikan oleh warga ketika persediaan sayur di rumah telah habis.
Begitu banyak kemudahan yang saya nikmati di kampung halaman. Berbeda ketika saya melanjutkan pendidikan ke Ternate, kota yang dalam sejarah dikenal sebagai Kota Rempah. Di sanalah saya mulai memahami bahwa hampir semua hal harus dibeli. Kehidupan di desa berjalan dengan cara yang jauh lebih sederhana dan mudah. Jika minyak untuk memasak habis, kami bisa langsung masuk ke hutan untuk memungut ranting kayu mati, lalu membawanya pulang. Kami tak perlu khawatir kehabisan kayu, karena kami tahu bahwa ketika satu pohon mati, akan ada tunas baru yang tumbuh dan merimbunkan kembali hutan itu.
Saya sangat menikmati kemudahan dari seluruh kekayaan alam tersebut. Namun, satu persoalan yang hingga kini masih menjadi masalah di desa saya dan juga desa-desa lain, adalah keberadaan jalan tani sebagai sarana utama untuk memudahkan masyarakat mengangkut hasil panen seperti kelapa dan pala.
Warga sangat membutuhkan jalan tani yang layak karena jalan tersebut menopang seluruh aktivitas pertanian dan kehidupan ekonomi masyarakat desa. Tanpa jalan tani yang memadai, petani mengalami kesulitan besar dalam mengakses lahan, terutama pada musim hujan ketika jalan rusak, licin, dan tidak dapat dilalui kendaraan.
Selain itu, kondisi jalan tani yang buruk meningkatkan biaya produksi. Hasil panen harus dipikul atau diangkut dengan cara tradisional yang memakan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar. Akibatnya, keuntungan petani menurun dan kesejahteraan keluarga ikut terdampak.
Jalan tani yang layak juga berpengaruh langsung terhadap kelancaran distribusi hasil pertanian. Ketika akses jalan baik, hasil panen dapat segera dibawa ke pasar dalam kondisi segar dan bernilai jual tinggi. Sebaliknya, akses yng buruk sering menyebabkan keterlambatan distribusi dan kerusakan hasil panen.
Dari sisi sosial, ketiadaan jalan tani yang layak mencerminkan ketimpangan pembangunan desa. Padahal, mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Oleh karena itu, pembangunan jalan tani bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan ketahanan ekonomi masyarakat desa.(Red)


Tinggalkan Balasan