Potensi Desa yang Terlupakan
Oleh: Ijan Sileleng ( Kabid Advokasi Penelitian dan Investigasi TFAIFI Foundation)
Di balik sunyinya desa dan terbatasnya akses pembangunan, ada denyut kehidupan yang terus bertahan meski kerap tertelan oleh zaman. Desa sering kali hanya dipandang sebagai wilayah yang membutuhkan bantuan. Padahal, jika kita melihat lebih dekat, ada potensi luar biasa di desa-desa Patani Timur yang menyimpan kekayaan alam sekaligus sumber pendapatan yang sebenarnya sudah tersedia, seperti wisata Geopark Air Terjun Kolos, Geowisata Batu Angus, serta agrowisata pertanian Gowonle.
Berdasarkan status Indeks Desa Membangun (IDM) Provinsi tahun 2025 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, desa-desa di Patani Timur masih masuk kategori tertinggal dengan nilai indeks 0,5834. Penilaian ini diukur dari tiga komponen, yaitu Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE), dan Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL). Namun, status tersebut bukan berarti desa tidak memiliki peluang untuk berkembang. Justru, di balik keterbatasan itu tersimpan potensi besar yang menunggu untuk digali.
Desa Peniti memiliki sumber daya alam yang melimpah. Potensi ini telah dibuktikan oleh Ko Asrif, warga desa yang bukan sarjana atau doktor, tetapi mampu memanfaatkan Air Terjun Kolos sebagai sumber energi terbarukan dengan menciptakan listrik tenaga air secara mandiri. Sayangnya, karya dan inovasi ini belum mendapat perhatian serius.
Ko Asrif adalah contoh nyata aset berharga desa yang mampu menembus batas zaman, terutama di era komunikasi dan transisi energi seperti sekarang. Jika inovasi ini direspons dan didorong, maka persoalan listrik dapat diatasi secara mandiri. Masalah penerangan bukan sekadar soal lampu, tetapi tentang perubahan desa, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat yang diharapkan.
Air Terjun Kolos memiliki banyak manfaat: sebagai sumber kehidupan masyarakat, destinasi wisata geopark, sekaligus sumber energi yang dapat menerangi Desa Masure, Peniti, dan Damuli.
Selain itu, terdapat dua potensi besar yang belum digarap maksimal, yaitu geowisata dan agrowisata. Agrowisata mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi sebenarnya konsep ini sangat melekat dengan daerah beriklim tropis. Patani Timur memiliki potensi besar untuk dijadikan destinasi pertanian karena dukungan sinar matahari yang tersedia sepanjang tahun.
Agrowisata pertanian Gowonle kaya akan pemandangan alam, keanekaragaman hayati, serta nilai sejarah dan kearifan lokal. Konsep ini menggabungkan unsur pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan dengan kegiatan pariwisata. Pengunjung tidak hanya datang untuk berlibur, tetapi juga belajar langsung tentang proses bercocok tanam, memetik buah, memberi makan hewan, hingga memanen hasil pertanian. Ini menjadi peluang ekonomi baru yang sangat menjanjikan bagi masyarakat desa.
Sementara itu, Geowisata Batu Angus memiliki keunikan bentang alam dengan hamparan batu hitam yang kontras dengan laut biru serta tebing yang menjulang tinggi. Kawasan ini menarik untuk kegiatan hiking, rekreasi laut, hingga menikmati keindahan bawah laut. Potensi ini sesungguhnya sangat besar, namun belum dikelola secara maksimal.
Di sisi lain, berkebun merupakan etos masyarakat petani yang telah tumbuh seiring perjalanan peradaban desa. Namun, ribuan lahan pertanian yang tersedia masih belum termanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh berbagai persoalan, di antaranya kurangnya pemahaman pemerintah desa terhadap konsep pertanian modern, pola kebijakan yang masih bertahan pada cara lama, keterbatasan pengetahuan teknis, serta bantuan kelompok tani yang sering kehilangan arah.
Untuk mendorong kemandirian daerah dan desa melalui sektor pangan dan ekonomi kreatif, diperlukan langkah nyata. Pemerintah desa perlu mengidentifikasi sarjana pertanian dan petani lokal, membentuk kelompok tani di setiap dusun, menghadirkan pendamping untuk pembinaan dan pelatihan, memberikan edukasi tentang pengendalian hama, serta membantu membangun akses pasar. Sinergi dengan dinas pertanian dan dinas pariwisata juga menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian desa.
Sayangnya, potensi-potensi tersebut sering diabaikan karena kurangnya promosi dan dorongan. Akibatnya, banyak anak muda meninggalkan desa karena merasa tidak ada peluang. Mata pencaharian semakin sempit, pendapatan semakin terhimpit, dan desa perlahan kehilangan generasi penerusnya.
Lalu, bagaimana mengubah wajah desa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sangat mendasar. Mengubah wajah desa berarti mengubah arah kebijakan pembangunan untuk masa depan dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini membutuhkan pemimpin desa yang bermoral, berwawasan luas, kaya ide dan gagasan, serta memiliki kinerja pemerintahan yang profesional.
Desa tidak bisa hanya bergantung pada besarnya anggaran. Yang dibutuhkan adalah kualitas kerja, transparansi keuangan, serta keterlibatan masyarakat. Perubahan desa kuncinya adalah keikhlasan untuk membangun bersama, melibatkan pemuda, dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak agar potensi alam dapat dimanfaatkan secara bijak.
Desa bukan sekadar tempat tinggal di pinggiran. Desa adalah akar bangsa dan akar peradaban. Jika akar itu kuat, maka batang dan daun akan tumbuh dengan sehat.
Sudah saatnya kita berhenti melihat desa tertinggal sebagai beban, dan mulai melihatnya sebagai kekuatan besar yang belum sepenuhnya digali. Membangun desa berarti membangun daerah dan Indonesia dari fondasi paling bawah. Ketika desa-desa tertinggal mulai bersinar, maka penderitaan dan ketimpangan sosial perlahan akan terputus. (Red)


Tinggalkan Balasan