HALTENG, Giandra News — Maraknya kasus pembunuhan yang terjadi di area kebun warga di wilayah Patani menjadi sorotan serius. Menyikapi hal tersebut, Literasi Insan Cita menggelar dialog publik bertajuk “Mengapa Pembunuhan Terus Terulang di Kebun Warga Patani”.
Kegiatan tersebut berlangsung di Caffe Bhakumpul, Weda, pada Rabu malam (14/10/2026) dan dihadiri pemuda, wartawan, serta masyarakat umum.
Dialog publik ini difasilitasi langsung oleh Literasi Insan Cita sebagai ruang diskusi kritis untuk membedah akar persoalan konflik agraria dan keamanan yang berujung pada hilangnya nyawa di wilayah Patani.
Tiga Narasumber Bedah Akar Konflik Patani
Untuk mengupas tuntas persoalan tersebut, pengurus menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang dan fokus pembahasan yang berbeda.
Narasumber pertama, Riswan yang mewakili warga Banemo, mengulas tema “Mengurai Akar Pembunuhan dan Konflik Banemo – Sibenpopo”. Riswan membeberkan kronologi ketegangan antar warga yang bermula dari sengketa lahan kebun yang tak kunjung tuntas dan berpotensi memicu aksi kekerasan berulang jika tidak ada mediasi serius dari pemerintah.
Narasumber kedua, Hamdan Halil selaku Ketua Umum DPD KNPI Halmahera Tengah, menyoroti dari sisi penegakan hukum dengan fokus “Peran Penegak Hukum dalam Mengungkap Pelaku Pembunuhan”. Hamdan menegaskan pentingnya transparansi dan keseriusan aparat kepolisian dalam mengungkap pelaku, agar tidak menimbulkan preseden impunitas dan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat Patani.
Sementara narasumber ketiga, Bambang Idris selaku Koordinator Literasi Loga-loga, membongkar fakta lama yang belum terselesaikan. Bambang mengangkat tema “Mengurai Fakta, 4 Saksi Mahkota Pembunuhan di Gowonle Tahun 2021”, yang dinilai menjadi salah satu kasus kunci yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar soal keadilan bagi korban.
Desakan Penyelesaian Konflik Agraria Secara Menyeluruh
Pantauan Giandra News di lokasi, dialog berlangsung alot dan interaktif. Peserta yang hadir tidak hanya mendengarkan, namun juga aktif memberikan pandangan terkait lemahnya pengawasan lahan, minimnya kehadiran negara di wilayah konflik, serta lambannya penyelesaian kasus pembunuhan sebelumnya.
Ijan Sileleng, selaku Koordinator Literasi Insan Cita berharap, melalui dialog publik ini, ada rekomendasi konkret yang bisa didorong ke Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera melakukan pemetaan ulang konflik agraria di Patani.
Menurutnya, tanpa penyelesaian akar masalah sengketa lahan kebun dan penuntasan kasus pembunuhan lama, maka potensi pembunuhan berulang di kebun warga Patani akan terus menjadi bom waktu yang mengancam stabilitas keamanan di Halmahera Tengah. (tim/red)




Tinggalkan Balasan