Oleh : Sukarman Kasim (Anak Negeri Fagogoru)

Dari ujung abad ke-15 sampai modern hingga zaman gen Z dan Alpha hari ini, mungkin hutan Halmahera terus menulis kisahnya dalam peradaban manusia. Setiap lapisan tanahnya adalah halaman buku sejarah, setiap epifit di kanopinya adalah catatan kaki dari petualangan ilmiah. Disini, dibawah naungan pohon pala, kelapa, dan cengkeh, diatas tanah ulayat milik warga yang kerap menyaksikan jatuhnya air mata, darah, duka, dan luka yang mendalam. Kita diingatkan bahwa warisan terbesar hutan bukan kayu dan obat-obatan, melainkan cerita tak berkesudahan tentang hubungan antara manusia dan alam, sebuah narasi yang terus mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.

Peristiwa berulang antar dua kabupaten

Halmahera Tengah dan Halmahera Timur adalah dua Kabupaten bersaudara, daratan Halmahera seakan dibaluti monster bertaring yang mengerikan juga menakutkan, masyarakat hidup dalam bayang-bayang ketakutan ulah dari laku brutal Orang Tak Dikenal (OTK). Tragedi pembunuhan berantai diantara dua kabupaten ini sejak dari tahun 2004. Kali Waci-Getowasi mengalir darah petani yang tak bersalah, 2021 silam kabut luka-duka menyelimuti hutan Gowonle menelan korban 1 orang warga Desa Masure Kec. Patani Timur, 1 orang warga Desa Tepeleo Kec. Patani Utara, dan 1 orang warga Makean-Soma. Komnas HAM melakukan Autopsi Forensik sebagai syarat bukti untuk mengungkap pelaku, sayangnya hanya angin sepoi yang berlalu tanpa arah kemana. Rangkaian peristiwa tragis ini sudah menelan korban begitu banyak, dari 10 kasus pembunuhan hanya satu kasus yang dapat diungkap dan dijebloskan dalam penjara di Halmahera Timur, lalu 9 kasus brutal berakhir tanpa ada titik terang. 2 April 2026 darah dan air mata menyayat warga Banemo Kec. Patani Barat, menegasikan sebuah pesan kepada semua pihak untuk berbenah dengan peristiwa serupa yang sudah memakan korban jiwa, apalagi ditengah dinamika sosial kemasyarakatan yang terus berubah cepat dibawah gempuran investasi industri-ekstraktif. Tutur bang Rusly Saraha dalam rilisan tulisan yg di publis Realitas Kieraha News.

Hutan Patani Sejak Lama

Alam selalu menulis cerita yang panjang, dari tanah, laut, dan hutan muncul sumber daya yang memancing rasa kagum dan minat yang tiada henti. Setiap interaksi manusia dengan alam menorehkan kisah tentang kreativitas, adaptasi, dan hubungan lintas budaya yang membentang puluhan tahun. Hutan Patani sejak lama dihuni oleh masyarakatnya, hidup dengan bercocok tanam dengan hasil komoditas pala, cengkeh, kelapa, dan hasil perkebunan lainnya. Keberlanjutan hidup orang Patani secara garis besar diatas rata-rata 70 % bergantung pada perkebunan dan nelayan. Dibalik hutan Halmahera Tengah yang megah tersimpan kisah manusia yang mengerikan, juga peringatan tentang kerapuhan tentang kehidupan masyarakat Patani ditengah pusaran teror dan pembunuhan. Kita patut mengajukan sebuah tanya dengan lantang, mengapa? Mungkin saja sebuah analisa terintegrasi terhadap dampak investasi, kinerja makroekonomi, dan tantangan struktural di wilayah penghasil tambang.

Hutan Patani di Buru Korporasi juga Borjuasi

Jika meminjam bahasa Jeffrey Sachs dalam lanskap geopolitik abad 21, Indonesia tidak hadir sebagai negara berdaulat, tetapi juga sebagai pusat strategis penyedia komoditas yang ikut menentukan arah peradaban modern. Termasuk pulau Halmahera, bagian dari menyimpan kunci strategis masa depan energy, pangan, dan teknologi dunia, salah satunya nikel untuk baterai kendaraan listrik yang akan menggerakkan kota-kota metropolitan. Ini yang membuat Halmahera diburu korporasi juga borjuasi, ketika hilirilisasi nikel dikawasan industri Morowali dan Weda Bay telah mengubah Indonesia dari pengekspor bijih mentah menjadi produsen nikel matte dan katoda baterai dengan cadangan bijih nikel Indonesia yang mencapai 62,03 juta ton atau sekitar 42% dari total cadangan global. Pulau Halmahera menjadi primadona mata dunia ditengah krisis global yang menuntut negara mengekspor sumber daya alam namun distribusi kesejahteraan diambang batas dan di ujung tanduk. Halmahera ditengah dinamika sosial, hutan Patani memegang beberapa kartu truf strategis sambil mengacu peta jalan dekarbonisasi industri nikel yang sedang diiplementasikan untuk memproduksi nikel hijau. Itu sebabnya, mata korporasi tertuju ke pulau halamhera termasuk daratan patani.

Hari-hari Tanpa Kepastian

Rabu, 20 Mei 2026 hari ke 48 mengenang kasus tragis itu, hari demi hari tidak akan pernah pupus dari ingatan memori kolektif keluarga, sanak saudara, kerabat, dan seluruh warga Desa Banemo. Suara orasi kembali menggema di wilayah Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah. Untuk ketiga kalinya Front Solidaritas Warga Banemo turun jalan melawan, menuntut kejelasan atas penanganan kasus pembunuhan mantan kepala Desa Bobane Jaya (Almarhum) yang sampai sekarang belum ada titik terang. Dilansir media NalarTimur.

Colabs Pemda, DPRD dan Polda Maluku Utara

Dari rentetan kasus pembunuhan dan aksi teror yang terus berulang, diantara tanah ulayat Halmahera Tengah dan Halmahera Timur. Publik menilai situasi yang berulang di kawasan hutan Patani tidak lagi dianggap sebagai peristiwa biasa, melainkan tanda lemahnya pengawasan politik dan penegakan hukum. Ruang hidup orang Patani sedang dibobrok oleh orang-orang tak dikenal ditengah kepentingan elit politik dan dinamika sosial industri ekstaktif.

Kondisi hutan Patani ini menjadi alarm serius untuk (Pemda) Pemerintah Daerah sebagai pucuk pimpinan juga pengambilan keputusan dalam tata kelola dan sistem pemerintahan agar konflik hutan Patani di prioritaskan dari keamanan dan kenyamanan dalam proses kebijakan daerah. DPRD Halmahera Tengah dalam alur kontitusional memiliki kewajiban moral untuk mendorong evaluasi menyeluruh, memastikan pemerintah daerah bekerja secara maksimal melindungi masyarakatnya. Disisi lain, Kepolisian sektor Halmahera Tengah dan Polda Maluku Utara untuk meningkatkan langkah kongkrit, percepatan pengungkapan seluruh kasus pembunuhan yang belum terselesaikan, menjamin keamanan warga, memastikan tidak ada lagi warga yang menjadi korban. Negara harus hadir sebelum korban berjatuhan, bukan hanya setelah tragedi terjadi.

Belum lama ini, pasca kejadian tragis pembunuhan di Kecamatan Patani Barat, telah berganti pucuk pimpinan Polda Malut, ada apa sebenarnya? bertanya dengan nada sinis, bergantinya Kepala Kepolisan Daerah Maluku Utara yang lama dengan yang baru akankah kasus pembunuhan misterius di hutan Patani ini bisa di usut tuntas dan segera menangkap para pelakunya? Kita perlu memberi afirmasi kepada instansi terkait utuk menguji kinerja dan menjaga trush terhadap publik. Disinilah letak keseriusan dan profesionalisme sedang diuji. Karena itu, perlu niat baik dan kolaborasi antar pemerintah dengan institusi kepolisian juga di dorong Dewan Perwakilan Rakyat Daerah baik kabupaten dan provinsi. DPD Nasdem Halmahera Tengah lewat Munadi Kilkoda (Wakil Ketua DPRD) telah menunjukan itu dalam kunjungan partai Nasdem Halteng ke KOMNAS-HAM tertanggal 25 april 2026 sekaligus menindaklanjuti arahan dari ketua komisi XIII DPR-RI Willy Aditya agar Komnas-HAM memberikan atensi terhadap kasus teror, mutilasi, dan pembunuhan di hutan Patani. Itu artinya, ada sinyal control pengawasan berjalan sesuai fungsinya. Juga kordinasi antar pemerintah daerah dan (PR) Pekerjaan Rumah juga kado bagi Kapolda baru untuk segera menyelesaikan problem kemanusian di hutan Patani yang tak kunjung usai.

‘Masyarakat Halmahera Tengah butuh kehadiran nyata dari Negara, rasa aman bukan sekedar janji melainkan hak warga yang wajib dijamin. Hentikan teror, tegakkan hukum, dan lindungi masyarakat Patani’.

Giandra News
Editor