Oleh: Barli Rano
Kasus pembunuhan yang terjadi di daerah Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, publik sering disuguhi wajah pemerintah dan aparat yang tampil seolah paling peduli pada rakyat. Kamera dinyalakan, pernyataan duka disampaikan, janji evaluasi diumumkan. Namun setelah sorotan mereda, keluarga korban tetap hidup dalam kehilangan, sementara keadilan berjalan lambat laun bahkan menghilang tanpa arah.
Di sinilah pencitraan bekerja: aparat dan pemerintah haltim halteng tampil seperti “malaikat penyelamat”, tetapi gagal menunjukkan keberpihakan nyata terhadap keselamatan masyarakat. Empati dipertontonkan di depan publik, sementara akar persoalan kekerasan tidak disentuh secara serius. Akibatnya, masyarakat mulai melihat ada jarak besar antara narasi kemanusiaan yang diucapkan pejabat dengan kenyataan pahit yang dialami warga. Artinya kepastian pikiran yang disampaikan oleh pemerintah daerah dalam rangka untuk menyelesaikan kasus pembunuhan tersebut, tidak pernah tiba pada kepastian realitas yang nyata.
Ketika nyawa melayang, respons pemerintah seharusnya bukan sekadar konferensi pers atau himbauan normatif. Negara wajib hadir melalui perlindungan, penegakan hukum yang transparan, dan keberanian mengusut siapa pun yang terlibat. Jika yang muncul hanya simbol-simbol kepedulian tanpa tindakan nyata, maka rakyat wajar menilai bahwa penderitaan mereka sedang dijadikan panggung pencitraan, di jadikan lelucon yang berkepanjangan.
Yang lebih menyakitkan, masyarakat kecil sering diposisikan sebagai objek belas kasihan, bukan warga yang hak hidupnya wajib dijamin oleh pemerintah dan aparat. Setiap tragedi akhirnya berubah menjadi siklus: korban berjatuhan, pernyataan resmi keluar, perhatian publik reda, lalu kasus perlahan dilupakan. Tidak ada perubahan mendasar, tidak ada rasa aman yang benar-benar dibangun. Kebohongan macam apa ini yang terus di pelihara?
Kritik terhadap aparat dan pemerintah dianggap membenci. Justru kritik lahir karena masyarakat masih berharap pemerintah dan aparat memiliki hati nurani. Sebab negara yang sehat bukan negara yang sibuk terlihat baik di depan kamera, melainkan negara yang benar-benar melindungi rakyat bahkan ketika tidak ada sorotan publik.
Husnul Khatimah buat mereka, korban yang berjatuhan usai di tebas, dicincang, dan dipenggal kepalannya.
Ada ironi besar dalam cara pemerintah dan aparat menghadapi tragedi kemanusiaan. Ketika rakyat kecil kehilangan nyawa, yang sering bergerak cepat justru mesin pencitraan. Spanduk belasungkawa dipasang, konferensi konyol digelar, kalimat “kami prihatin” diulang berkali-kali. Namun anehnya, keberanian untuk membongkar akar masalah justru seperti hilang entah ke mana.
Di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, masyarakat berkali-kali dipaksa menyaksikan pola yang sama: nyawa melayang, situasi memanas, aparat datang setelah keadaan kacau, lalu pemerintah sibuk memastikan citra tetap aman. Seolah yang paling penting bukan keselamatan warga, melainkan menjaga agar investasi, jabatan, dan reputasi tidak terganggu.
Kekonyolan terbesar terlihat ketika rakyat diminta tetap percaya pada negara, sementara negara sendiri tampak lebih percaya pada laporan formal dibanding jeritan masyarakat. Semua dibuat terdengar tertib di atas kertas, situasi “kondusif”, keamanan “terkendali”, kasus “ditangani”. Tetapi di lapangan, keluarga korban tetap menunggu kejelasan yang tidak pernah benar-benar datang.
Lucunya lagi, kritik masyarakat sering dianggap ancaman ketimbang alarm bahaya. Warga yang bersuara dicap provokatif, padahal mereka hanya menuntut hak paling dasar—hak untuk hidup aman dan diperlakukan adil. Negara seperti alergi terhadap kritik.
Ada juga kecenderungan pemerintah dan aparat muncul paling depan saat kamera aktif, tetapi menghilang ketika warga membutuhkan pendampingan nyata. Mereka ingin terlihat seperti penyelamat, padahal sering kali rakyat merasa ditinggalkan sebelum, saat, dan sesudah tragedi terjadi.
Kalau negara terus sibuk memoles wajah daripada membenahi luka masyarakat, maka untuk apa kita percaya pada pemerintah seantero dengan aparat? Sebab rakyat tidak membutuhkan malaikat palsu yang pandai berbicara di podium. Rakyat membutuhkan keberanian, kejujuran, dan tindakan nyata untuk memastikan nyawa manusia tidak terus dianggap murah.


Tinggalkan Balasan