HALBAR, Giandra News — Pemuda Suku Wayoli, secara resmi mengumumkan sikap dan penolakan dalam rilis ini terkait aktivitas PT. Ormat Geotermal Indonesia, yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup makhluk dan lingkungan sekitarnya.

Sikap dan penolakan ini diambil guna memberitahukan kepada publik dan negara bahwa Talaga Rano, sejak awal para moyang mengenalkan tempat ini adalah sebuah tempat penghidupan yang berlangsung hingga kini, dan menghidupi masyarakat Adat dari waktu ke waktu.

Pemuda Suku Wayoli, Agnes Kuadang, menyampaikan bahwa Talaga Rano selain menjadi ruang ritual, sosial dan budaya, ia juga adalah jiwa bagi masyarakat suku Wayoli yang tak pernah mati.

“Sebelumnya pada tahun 1998, Masyarakat Adat disekitar Talaga Rano sudah beraktivitas, dengan menanam tanaman tahunan juga bulanan. Sebagai bentuk untuk melawan krisis moneter kala itu; tanaman holtikultura seperti padi, mentimun, cabai, tomat dan jenis pangan lainnya menjadi penanda dan bukti bahwa ada kehidupan yang bersumber dari Talaga Rano”.

Selain itu, empat simbol penanda yaitu Dola Gumi, Sigoto Tamaono, Ruba Bangana dan Jurame. Yang masing-masing dengan penjelasan sebagai berikut;

“Dola Gumi (potong tali hutan); adalah hutan yang belum pernah dihuni oleh masyarakat dan siapa pun. Sigoto Tamaono (memotong kayu dengan kapak) yang berarti sudah ada penghuni dengan bukti telah ada aktivitas perkebunan. Ruba Bangana (Bongkar Hutan) yaitu tanah yang sudah siap untuk digarap. Jurame (Kebun Warga) artinya hasil dari bongkar hutan dan didalamnya sudah ada tanaman milik warga”.

Namun dasar dari sikap penolakan dan kecaman ini hadir karena Talaga Rano diincar para korporat, yang berakhir pada pelarangan warga untuk menggarap dan bercocok tanam dengan alasan bahwa ini tanah lindung.

Menghadapi ancaman tersebut masyarakat Adat Suku Wayoli melakukan penolakan keras. Bagi (kami/mereka) Talaga Rano bukan tanah kosong melainkan sumber penghidupan kami.

Pada akhirnya, di tahun 2026 ini, melalui Keputusan ESDM Nomor 8 tentang kemenangan pelelangan wilayah kerja panas bumi didaerah Talaga Rano oleh PT. Ormat Geotermal Indonesia memutus harapan perjuangan masyarakat Adat Suku Wayoli.

Padahal menurut kajian kami, Geotermal adalah petaka yang bersembunyi dibalik kebijakan dengan propaganda menjadi salah satu sumber energi andalan pengganti energi fosil. Padahal kita pun tahu, ia merupakan biang kerok dari polusi bertopeng kesejahteraan.

Sebagai penutup pemuda Suku Wayoli tersebut mengajak solidaritas dan berseru agar kita bersatu bergandengan tangan menjaga tanah untuk anak cucu, dan generasi yang berhak atas tanah ini.

“Ino Wo Mau Rimoi Mau Gu’u Gimama Re’o Palihara Nanga Tana’a Toma Ngo’a Re Danongo Tala (mari bersatu bergandengan tangan menjaga tanah untuk anak cucu/generasi)”. (tim/red)

Giandra News
Editor
Giandra News
Reporter