Indonesia adalah bangsa yang besar, bahkan banyak yang bilang tanah kita tanah surga. Namun, jutaan rakyat direnggut kesejahteraannya oleh para pemimpin yang korup, tikus-tikus bangsa yang selalu benar di mata hukum.

Sejak 17 agustus 1945, Indonesia telah merdeka dari penjajah, tetapi ternyata udara kemerdekaan hanya diperuntukan untuk segelintir golongan, bukan kepada rakyat kecil.

Dikala bangsa-bangsa lain terus berlomba membangun industri, pendidikan dan infrastruktur negaranya, kita masih tergeletak lemah tak berdaya digerogoti korupsi. Apakah ada yang tahu sudah berapa uang rakyat yang pernah dikorupsi tikus-tikus di Negara ini?

Tak ada yang bisa menjawab ini, karena terlalu banyak saudara-saudaraku, tetapi siapa masih yang peduli dengan itu semua, kalo setiap orang, setiap golongan sibuk menyuarakan kepentingan masing-masing.

Bumi pertiwi menangis, menangis melihat setiap hari bangsa ini selalu dilanda kasus-kasus baru, dan semuanya kebanyakan kasus korupsi.

Besok kita kembali mengibarkan Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengucapkan kata yang begitu sakral, kita telah merdeka.

Tetapi, di tengah perayaan itu, izinkan kita bertanya lebih dalam. Merdeka untuk siapa?

Apakah kemerdekaan hanya tentang terbebas dari penjajahan, atau juga tentang terbebas dari kemiskinan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kekuasaan yang hanya berpihak kepada segelintir orang?

***

Lihatlah bagaimana hukum di negeri ini seakan memiliki dua wajah. Bagi rakyat kecil, hukum ditegakkan seketat mungkin. Seorang pencuri ayam bisa dipenjara bertahun-tahun. Seorang ibu yang mencuri cokelat untuk anaknya bisa diseret ke pengadilan. Tapi bagaimana dengan mereka yang merampok uang negara miliaran bahkan triliunan? Mereka duduk di kursi empuk, tersenyum di depan kamera, dan keluar masuk penjara seperti sedang liburan.

Bukankah ini ironi yang paling menyakitkan? Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata, kini rasanya hanya menjadi seremonial tahunan. Bendera dikibarkan, pidato dibacakan, lomba panjat pinang digelar. Tapi setelah itu semua selesai, rakyat kembali ke realitas yang sama: harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, pendidikan mahal, dan kesehatan menjadi barang mewah.

Korupsi bukan hanya soal uang yang hilang. Korupsi adalah ketika dana pembangunan sekolah diselewengkan, lalu anak-anak harus belajar di ruangan bocor. Korupsi adalah ketika anggaran rumah sakit dipotong, lalu pasien miskin ditolak karena tidak punya BPJS. Korupsi adalah ketika proyek jalan dianggarkan besar, tapi hasilnya rusak hanya dalam hitungan bulan.

Di sinilah kita harus jujur. Kemerdekaan tanpa keadilan sosial hanyalah kemerdekaan semu. Kemerdekaan tanpa pemerataan hanyalah hadiah untuk para penguasa dan kroni-kroninya. Mereka bebas berkuasa, bebas membuat kebijakan, bebas menikmati fasilitas negara. Sementara rakyat? Hanya bebas untuk menonton dan mengeluh di media sosial.

Lalu siapa yang salah? Kita tidak bisa menyalahkan sejarah. Para pendiri bangsa sudah memberikan fondasi yang kuat. Yang salah adalah kita hari ini. Ketika kita memilih pemimpin hanya karena popularitas, bukan integritas. Ketika kita diam melihat kecurangan karena takut kehilangan jabatan. Ketika kita menganggap korupsi sebagai “hal biasa” asalkan kita juga dapat bagian.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita: sampai kapan kita membiarkan kemerdekaan ini hanya dinikmati oleh penguasa?

Ini membuktikan betapa rakusnya para pejabat Negara ini, merampas uang rakyat untuk memperkaya diri pribadi. Masihkah kita akan diam saudara-saudaraku? Jangan hanya menjadi pemuda yang penakut dan membiarkan korupsi di Indonesia terus terjadi.

Tindakan korupsi adalah kejahatan yang sangat bejat, uang rakyat dihabiskan untuk kepentingan pribadi. Korupsi di Negara ini telah merugikan rakyat dan Negara puluhan triliun bahkan ratusan triliun.

Korupsi jelas-jelas adalah virus ganas yang mampu menumbangkan suatu bangsa besar ini, oleh karena itu wajib kita basmi. Tetapi masih adakah orang yang peduli dengan itu semua?

Apa kabar Indonesia? Masih adakah orang yang peduli dengan nasib bangsa? Masih adakah orang yang peduli akan hak rakyat yang terampas? Kalau masih ada yang peduli, jangan diam, bangkit dan bersuara lah.

***

Perlawanan tidak harus selalu dengan demo dan teriakan. Perlawanan bisa dimulai dari hal kecil. Dari seorang guru yang menolak menerima sogokan. Dari seorang ASN yang menolak menandatangani proyek fiktif. Dari seorang pemuda yang memilih jujur meskipun ditawari jalan pintas. Dari kita semua yang berani berkata “tidak” saat diajak ikut bermain dalam lingkaran setan korupsi.

Jangan tunggu pahlawan datang dari langit. Karena pahlawan sejati hari ini adalah orang-orang biasa yang tetap memilih benar di tengah godaan yang salah.

Bayangkan jika 10 juta anak muda Indonesia hari ini kompak menolak korupsi. Bayangkan jika setiap desa punya pengawas anggaran yang jujur. Bayangkan jika setiap sekolah mengajarkan bukan hanya matematika, tapi juga integritas. Maka dalam 10 tahun, wajah Indonesia akan berubah.

Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang petani bisa tidur nyenyak karena hasil panennya dihargai layak. Ketika seorang buruh pulang kerja tanpa takut di-PHK sepihak. Ketika seorang anak di pelosok bisa bermimpi jadi dokter tanpa takut biaya. Itulah kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulu kita.

Ini adalah negeri kita, bangsa kita, tanah kita, rumah kita, dan kita tidak boleh membiarkan korupsi menindas rakyat, kita rebut kemerdekaan untuk kita wahai rakyat dan pemuda Indonesia.

Korupsi mungkin seperti virus ganas yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Tetapi perlawanan terhadapnya juga harus tumbuh dari kesadaran masyarakat.

Indonesia masih memiliki jutaan anak muda yang memiliki cita-cita. Masih ada guru yang mengajar dengan ketulusan. Ada petani yang menjaga tanah. Masih ada nelayan yang menjaga laut. Ada pekerja yang menghidupi keluarganya dengan keringat sendiri. Dan ada orang-orang jujur yang memilih hidup sederhana daripada mengkhianati amanah.

Apakah keadilan itu benar-benar dirasakan oleh petani yang masih kesulitan menjual hasil panennya? Apakah dirasakan oleh nelayan yang setiap hari berhadapan dengan laut demi menghidupi keluarganya? Apakah dirasakan oleh buruh yang bekerja dari pagi hingga malam tetapi masih harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan rumah? Apakah dirasakan oleh anak-anak di pelosok negeri yang masih bermimpi mendapatkan pendidikan yang layak?

***

Hari ini, 81 tahun setelah proklamasi, kita tidak sedang dijajah oleh bangsa lain. Kita sedang dijajah oleh kerakusan bangsa sendiri. Dan penjajahan model baru ini lebih berbahaya, karena musuhnya memakai dasi, duduk di gedung megah, dan berbicara atas nama rakyat.

Maka tugas kita belum selesai. Kemerdekaan bukan titik akhir, tapi titik awal perjuangan. Perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.

Semoga Merah Putih tidak hanya berkibar di langit negeri, tetapi juga berkibar di dalam hati setiap orang yang masih percaya bahwa keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama kemerdekaan.

Oleh: M. Jihad Arsad

Editor: Redaksi

Giandra News
Editor
Giandra News
Reporter