HALTENG, Giandra News — Dinamika sosial ekonomi perempuan pesisir, ekonomi keluarga, pengetahuan lokal, hingga tantangan budaya di tengah modernisasi menjadi fokus Bedah Buku “FAKAWEL: Dinamika Sosial Ekonomi Perempuan Pesisir” karya Herman Oesman, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU).
Diskusi yang diinisiasi Giandra News itu berlangsung di Teras Gerindra Halmahera Tengah, Kamis Malam (27/08/2026), dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan aparat keamanan.
Bahas Peran Perempuan Pesisir
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Halmahera Tengah Ahlan Djumadil selaku tuan rumah. Turut hadir Penulis buku Herman Oesman, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Subhan Somola, Kepala Baperida Husain Ali, Kasatlantas Polres Halteng Iptu Masqun Abdukish, anggota DPRD, kepala dinas, wartawan, dan peserta undangan lainnya.
Moderator Faizal Ikbal dalam pengantarnya mengajak peserta memaknai “Fakawel” secara lebih luas. Menurutnya, Fakawel bukan sekadar aktivitas perempuan mencari ikan di laut.
“Fakawel adalah cerita tentang perempuan, keluarga, laut, ekonomi, dan pengetahuan lokal yang tumbuh bersama masyarakat pesisir,” ujar Faizal.
Fakawel sendiri merupakan tradisi masyarakat pesisir dalam menangkap ikan dengan peralatan sederhana dan berbasis pengetahuan lokal. Salah satu inspirasi penulisan buku ini berasal dari aktivitas perempuan di Desa Damuli, Kecamatan Patani Timur, yang masih melestarikan praktik tersebut.
Ekonomi Keluarga dan Identitas Budaya
Dalam pemaparannya, Herman Oesman menekankan bahwa buku ini tidak berhenti pada satu wilayah. FAKAWEL mengangkat dinamika lebih luas tentang bagaimana perempuan pesisir di Halmahera Tengah beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi.
Dari perspektif ekonomi, aktivitas perempuan pesisir memiliki peran strategis dalam ketahanan keluarga. Pemanfaatan sumber daya laut tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam menopang kebutuhan rumah tangga.
Sementara dari sisi sosial-budaya, Fakawel merepresentasikan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi melalui interaksi sehari-hari dengan laut dan lingkungan. Pengetahuan itu menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir.
Tiga Perspektif: Keamanan, Pariwisata, dan Pembangunan
Diskusi diarahkan pada tiga sudut pandang narasumber.
Kepada Iptu Masqun Abdukish, pembahasan menyoroti potret perempuan pesisir dari perspektif relasi sosial di tengah masyarakat. Nilai-nilai lokal masyarakat Halmahera Tengah menjadi sorotan dalam interaksinya selama bertugas di daerah.
Subhan Somola membahas potensi Fakawel dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana nilai lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan budaya sekaligus memiliki nilai ekonomi di masa depan.
Sementara Husain Ali menyoroti aspek perencanaan pembangunan. Di tengah laju pembangunan Halmahera Tengah yang cepat, ia menekankan pentingnya memastikan masyarakat lokal, khususnya perempuan dan masyarakat pesisir, tetap menjadi bagian dari proses pembangunan tanpa kehilangan ruang hidup, budaya, dan identitasnya.
Pembangunan Harus Jaga Identitas Lokal
Para narasumber sepakat bahwa pembangunan tidak bisa hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan perubahan fisik. Aspek sosial dan kebudayaan masyarakat harus dijaga agar pembangunan tetap memiliki keterhubungan dengan identitas lokal.
Fakawel dinilai berada di persimpangan antara ekonomi, budaya, lingkungan, keluarga, dan solidaritas sosial. Aktivitas ini juga menciptakan ruang kebersamaan yang memperkuat hubungan sosial masyarakat pesisir. Pengetahuan tentang laut tumbuh melalui pengalaman kolektif, bukan hanya individual.
“Keberadaan perempuan pesisir tidak dapat dipandang hanya dari peran domestik. Mereka adalah kekuatan sosial dan ekonomi masyarakat, sekaligus penjaga pengetahuan dan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar salah satu narasumber.
Melalui buku ini, Herman Oesman menghadirkan Fakawel sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat pesisir Halmahera Tengah secara utuh, mulai dari laut, keluarga, ekonomi, budaya, hingga perubahan sosial yang terus berlangsung. (tim/red)



Tinggalkan Balasan