Ada masa ketika sebuah kampung perlu berhenti sejenak dari riuhnya kepentingan. Berhenti dari suara-suara yang saling bersahutan, dari ambisi yang semakin meninggi, dan dari langkah-langkah yang terkadang membuat kita lupa ke mana sebenarnya hendak berjalan.
Bukan karena kampung ini kehilangan tanah tempat berpijak. Bukan pula karena sejarahnya telah hilang sepenuhnya. Tetapi karena sesuatu yang jauh lebih berharga perlahan mulai menjauh dari kehidupan kita. Rasa kebersamaan, persaudaraan, dan kesadaran bahwa kita berasal dari rumah yang sama.
Mungkin sudah waktunya para tetua kembali duduk bersama. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, apalagi untuk memperbesar perbedaan, tetapi untuk mengingatkan generasi hari ini bahwa kampung bukan sekadar tempat tinggal, kampung adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh semua orang.
***
Kampung Tua (Desa Peniti) bukan sekadar tempat tinggal dan sebatas nama, ia merupakan oase peradaban yang tumbuh dan lahir dari perjuangan dan sejarah panjang. Desa Peniti merupakan taman “Pembaharuan Diri”, bagi orang-orang yang berfikir tentang hidup bersosial dan bermasyarakat, kita hari ini dan seterusnya. Rute perubahan tidak sebatas dibangun diatas pembangunan secara fisik, tetapi berawal dari hati dan perasaan tulus manusia.
Tetapi karena masyarakat lebih khususnya para pemimpin Desa yang hidup di atas tanah itu perlahan mulai kehilangan kompas sosialnya. Ambisi tumbuh lebih tinggi daripada kesadaran. Kepentingan pribadi kadang berjalan lebih cepat daripada kepentingan bersama. Dan yang lebih mengkhawatirkan, kesalahan perlahan dipaksa menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Saatnya kita berbenah dan benar-benar membutuhkan asupan pencerahan dari orang-orang tua kita yang sejak lama mereka hidup di Desa Peniti tanpa meminta banyak imbalan. Mereka hanya membutuhkan berlaku jujur demi masa depan tempat tinggal mereka.
Di sinilah sebuah kampung mulai kehilangan wajahnya. Kita mungkin masih melihat rumah-rumah berdiri, jalan-jalan terbentang, laut masih mengirimkan angin ke pesisir, dan matahari masih terbit dari ufuk yang sama. Namun apakah kehidupan sosial kita masih menyimpan wajah Peniti yang dulu?
Pertanyaan itu barangkali lebih penting daripada sekadar bertanya siapa yang berkuasa dan siapa yang menang. Sebab kekuasaan akan berganti, jabatan akan berakhir, dan kepentingan akan menemukan jalannya masing-masing. Tetapi luka sosial yang dibiarkan terlalu lama dapat menjadi warisan buruk bagi generasi berikutnya.
Maka, melalui tulisan ini penulis berharap pulih dari sakit dan kembali berdamai. Perbedaan pendapat, perbedaan pilihan adalah soal hak dan akan selesai ketika tiba saatnya. Tetapi, kita sebagai masyarakat yang hidup dalam satu rumpun akan terus hidup berdampingan dengan sistem sosial yang selama ini dibangun atas nama “Tfaifi“. Olehnya itu, mari kembali merangkul atas nama kekeluargaan dan kebersamaan upaya menjahit benang merah yang sudah terlanjur terjadi.
Desa Peniti sudah lama hidup berdampingan, bersosial, bermasyarakat, dan juga tumbuh ditengah kondisi yang benar-benar masih membutuhkan keluarga. Untuk itu, sudahi pertengkaran dan permusuhan demi Desa Peniti yang baik dan damai.
***
Di titik inilah kita perlu jujur kepada diri sendiri. Bahwa memperbaiki Peniti tidak bisa hanya menunggu keputusan di atas meja rapat atau kebijakan dari satu dua orang. Peniti akan kembali utuh ketika setiap anak kampung, pemuda, perempuan, dan para tetua mau mengambil bagian. Bukan sebagai penonton, tetapi sebagai penjaga nilai yang selama ini membuat kita kuat: saling hormat, saling tolong, dan saling menjaga.
Kita tidak perlu menunggu momentum besar untuk memulai. Cukup dari hal-hal kecil. Duduk bersama, mendengar tanpa memotong, mengakui kesalahan tanpa gengsi, dan memaafkan tanpa menuntut. Dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah kompas sosial kita akan kembali ditemukan. Karena kampung yang sehat bukan kampung yang tidak pernah bertengkar, melainkan kampung yang tahu cara berdamai setelahnya.
Peniti layak diwariskan dalam keadaan yang lebih baik dari hari ini. Bukan warisan konflik, melainkan warisan semangat gotong royong dan martabat. Biarlah sejarah mencatat bahwa di masa sulit ini, kita memilih jalan pulang. Jalan untuk memperbaiki, bukan membenarkan. Jalan untuk menyembuhkan, bukan melukai. Karena pada akhirnya, nama baik Peniti adalah cermin dari nama baik kita semua.
Dan jika kelak anak cucu kita bertanya, “apa yang kalian lakukan ketika Peniti sedang retak?”, semoga kita bisa menjawab dengan kepala tegak: “kami memilih duduk bersama, kami memilih memaafkan, kami memilih membangun”. Karena kampung ini bukan milik kita hari ini saja. Peniti adalah titipan. Dan titipan hanya akan selamat jika dijaga dengan hati, bukan dengan ego.
Closing statement, jangan normalisasi kesalahan untuk memaklumi sebuah kesalahan tapi berfikir secara manusia bahwa patut diperbaiki karena kebiasaan itu akan selalu hidup di dalam dada. Hari ini, Desa Peniti seperti sedang berdiri di persimpangan. Bukan karena tanahnya telah kehilangan induknya, bukan pula karena sejarahnya telah benar-benar hilang. Tetapi, ada sesuatu yang perlu dibenahi dari dalam diri kita.
Oleh: Sahwi Agil (Pemuda Desa Peniti)
Editor: Redaksi



Tinggalkan Balasan