HALTENG, Giandra News — Malam itu Weda tidak hanya merayakan Sumpah Pemuda. Di panggung kecil Wema Fest, Rabu malam (28/10/2026), Buzz Muda-Mudi Kota menggelar Toksow bertajuk “Pemuda Berbicara, Kota Berubah”. Tidak ada seremoni berlebih, hanya lingkar cahaya, mikrofon, dan anak-anak muda yang gelisah menatap kotanya sendiri.
Kota yang baru berusia 36 tahun ini sedang tumbuh terlalu cepat. Terlalu bising oleh mesin industri, tapi terlalu sepi dalam percakapan tentang manusia. Dari situlah Toksow ini berangkat: memberi ruang, sebelum Weda benar-benar kehilangan suaranya.
Bupati: Pemuda Bukan Objek, Tapi Ekosistem yang Dinamis
Bupati Halmahera Tengah, Ikram M. Sangadji, membuka dengan sebuah tesis yang menohok. Pemuda, katanya, adalah ekosistem yang dinamis, bukan sekadar objek pembangunan yang dipanggil saat upacara.
“Pemuda itu sebagai ekosistem yang dinamis yang membutuhkan ruang yang memiliki trilogi, dibangun dari semua sistem kota yang urban. Dinamis akan tumbuh, karena pemuda itu akan membuat pernyataan positif dan pesimis,” ujar Ikram.

Menurutnya, tanpa ruang partisipasi yang terbuka, ekosistem itu akan statis. Aspirasi akan layu sebelum sempat mekar. Maka peran pemerintah bukan lagi mengatur pemuda, melainkan terlibat. Membuka pintu pertama: ruang komunikasi antara pemuda dan pemerintah.
Jika ruang itu tertutup, Weda hanya akan menjadi kota yang dipindahkan dari Soasia, tapi tak pernah benar-benar pindah secara jiwa.
Tata Ruang: Weda Butuh Masterplan yang Beridentitas, Bukan Sekadar Beton
Kritik itu disambut oleh Bambang Prakoso, Kadis Penataan Ruang dan Kawasan Perkotaan. Di banyak kabupaten/kota lain, musyawarah perencanaan sudah melahirkan apa yang ia sebut insight kota – sebuah kesadaran kultural yang meresap ke dalam masterplan.
“Perkembangan kawasan kota harus mencerminkan kulturalnya, oleh sebab itu dalam penataan kota harus diimplementasikan,” kata Bambang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada sindiran halus. Weda hari ini dibangun dengan cepat, tapi apakah ia dibangun dengan identitas? Jika masterplan hanya berisi jalan dan gedung, tanpa jejak Fagogoru di dalamnya, maka kita sedang membangun kota tanpa ingatan.
Kota yang nyaman bukan hanya kota yang tertata, tapi kota yang tahu siapa dirinya.
Akademisi: Jika Hanya Ekonomi yang Tumbuh, Kota Ini Akan Runtuh
Dan puncak kegelisahan itu datang dari Akademisi UMMU, Sahrony A. Hirto. Ia tidak berbasa-basi. Ia menyebut Weda sebagai kota transisi – antara Weda dan Sagea, antara agraris dan industri, antara politik dan kapital.
“Pertama kota yang bertumbuh hanya ekonomi, akan runtuh. Karena ekonomi tumbuh dengan industri,” tegas Sahrony.
Menurutnya, Weda berubah secara politik dan ekonomi karena konektivitas politik dan produksi ruang. Kota ini adalah imajinasi yang terjejer dari kepatuhan masyarakat, namun di dalamnya ada kreativitas yang destruktif. Akan ada persilangan konflik yang tak terhindarkan.
Ia memetakan tiga badai yang akan datang. Pertama, migrasi dan akumulasi penduduk semu yang membanjiri Lelilef. Kedua, harga lahan yang akan melangit, kota yang terbuka tapi harus membangun benteng pertahanan bahasa dan budaya. Ketiga, distribusi pajak yang tak adil untuk pendapatan asli.
“Oleh sebab itu, butuh aktor politik yang kuat dan newtronik. Karena secara sistem belum kuat, kota akan runtuh jika tidak ada aktor politik yang kuat,” pungkasnya.

Malam itu Toksow selesai. Lampu Wema Fest perlahan padam. Tapi pertanyaan itu masih menggantung di atas kepala setiap pemuda yang hadir: Apakah kita sedang membangun Weda, atau Weda sedang membangunkan kita?
Tiga Kesepakatan Malam Itu: Dari Wacana Menuju Kerja Kolektif
Jika sesi awal Toksow dipenuhi kegelisahan, maka akhir malam justru ditutup dengan kesepakatan yang membumi. Tidak lagi sekadar kritik, tapi tawaran jalan pulang untuk Weda. Ada tiga poin penting yang disepakati bersama oleh pemuda, pemerintah, akademisi, dan industri di malam itu.
- Musrembang Komunitas: Meruntuhkan Tembok Musrembang Formalitas
Selama ini Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) sering kali hanya menjadi ritual tahunan yang elitis. Berkas tebal, forum kaku, dan suara pemuda yang jarang masuk.
Malam itu disepakati: Weda butuh Musrembang Komunitas. Sebuah ruang alternatif di mana pemuda, komunitas kreatif, pegiat lingkungan, pelaku UMKM, hingga mahasiswa bisa melahirkan insight kota dari bawah. Bukan dari meja birokrasi, tapi dari trotoar, dari warkop, dari sanggar.
Ini bukan tandingan, melainkan pelengkap. Agar masterplan kota tidak hanya mencerminkan keinginan investor, tapi juga denyut nadi kultural Fagogoru.
- Kalender Event: Memberi Napas Pada Kota yang Terlalu Cepat
Weda tumbuh sebagai kota industri. Ia sibuk. Ia produktif. Tapi ia lupa merayakan dirinya sendiri.
Kesepakatan kedua adalah mendorong lahirnya Kalender Event Kota yang tetap dan terkurasi. Bukan sekadar seremonial, tapi ruang sirkulasi ekonomi kreatif, ruang bertemu, ruang di mana identitas kota dirayakan.
Dari festival musik, pameran produk lokal, hingga parade budaya. Jika Lelilef punya kalender produksi nikel, Weda harus punya kalender produksi kebudayaan. Karena kota yang tidak punya perayaan, akan kehilangan ingatannya sendiri.
- Buku Komik Pahlawan: Menghidupkan Kembali Salahuddin Bin Talabudin
Para pemuda sepakat untuk mendorong penyusunan Buku Komik Pahlawan Nasional asal Halmahera Tengah: Salahuddin Bin Talabudin.
Selama ini nama pahlawan kita hanya hidup di nama jalan dan upacara. Anak muda tidak mengenalnya. Sejarahnya tidak diceritakan dengan bahasa mereka.
Maka komik menjadi jembatan. Sebuah upaya mentranslasikan nilai kepahlawanan, keberanian, dan ke-Fagogoru-an ke dalam bahasa visual yang dicintai generasi hari ini. Agar Weda tidak hanya mengekspor nikel, tapi juga mengekspor kebanggaan.
Pada akhirnya, Toksow “Pemuda Bicara, Kota Berubah” semalam bukan sekadar talkshow. Ia adalah cermin.
Ia mengingatkan kita: Weda tidak akan berubah hanya karena gedungnya tinggi dan jalannya mulus. Weda hanya akan berubah jika pemudanya diberi ruang untuk bicara, untuk didengar, dan untuk memimpin.
Karena jika pemuda hanya menjadi penonton di kotanya sendiri, maka “Kota Berubah” hanya akan menjadi jargon. Bukan sejarah. (red)







Tinggalkan Balasan